Nyepi ke Bali #1

Pada awalnya memang dak ada rencana pergi ke mana-mana, apalagi pergi ke Bali. Cuma, pada hari senen, pas waktu itu lagi ada kuliah Metode Penelitian Survey di ruang Margono lantai 3 Fakultas Ilmu Budaya, temanku Fikri tiba-tiba ngajak pergi ke Bali. “Transportasinya dibayarin Tata” katanya. “Serius” tanyaku meyakinkan. Dia mengiyakan. Aku yang memang tak banyak aktivitas di kampus langsung sepakat, kapan pun berangkatnya. Agak gila memang, hari ini merancanakan, besok mesti berangkat, karena menyesuaikan dengan datangnya hari raya Nyepi yang cuma tinggal tiga hari lagi.

Karena masih ada tugas kuliah yang mesti dikumpulkan hari Rabu, malam harinya aku langsung ngebut bikin tugas. Tugas itu bikin aku tak tidur semalam suntuk, lagipula besok kereta yang berangkat ke Banyuwangi kabarnya berangkat pagi sekali, sekitar jam 7. Bila aku tidur, tentu saja bakal bangun kesiangan dan ketinggalan kereta.

***

Meski kata banyak orang Bali itu indah, aku tak tak terlalu tertarik untuk mengunjunginya. Alasan klasik yang sering saya lontarkan: wisata ke Bali sudah terlalu umum, sudah terlalu banyak orang yang berwisata ke Bali. Namun, kali ini berbeda, ketertarikanku pergi ke Bali bukan karena wisata alamnya, terlebih karena aku pengen merasakan suasana hari raya Nyepi.

Selasa tanggal 20 Maret 2012, tepatnya pukul 07:30, berangkatlah kami dengan menumpang kereta Sri Tanjung Jogja – Banyuwangi. Ongkosnya bisa dibilang sangat murah, hanya Rp 35.000 per orang.

Perjalanan Jogja-Banyuwangi memang cukup lama dan melelahkan, apalagi dengan menumpang kereta ekonomi. Tapi, untung saja penumpang yang duduk di depan kami orangnya sangat asik, kocak, dan baik. Beliau sepasang suami-istri yang usianya sudah cukup tua, 60 tahunan, tapi hubungan mereka masih layaknya orang yang masih pacaran. Bu Desi dan Pak Robert nama sepasang suami-istri tersebut. Mereka hendak pergi ke Lombok untuk menengok cucu. Kata bu Desi, anak-anaknya sudah pada berkeluarga dan tinggalnya pada jauh-jauh. Ada yang di Bali, Lombok, Palembang, juga di Jambi. Semuanya sudah punya pekerjaan yang layak. Sehingga, beliau dan suaminya sudah tak punya tanggungan lagi. Lagipula, mereka sudah pensiun dari pekerjaan. Maka, untuk menghabiskan masa tuanya mereka gunakan untuk jalan-jalan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menengok cucu. Itu terlihat dari bagaimana mereka mengenal betul penjual-penjual yang berseliweran dan para petugas berseragam di kereta. Bu Desi adalah orang yang sangat terbuka. Beliau bercerita semua kisah hidupnya kepada kami, kisah waktu kecil, waktu pacaran, tentang anak-anaknya, dan lain-lain, sehingga kami punya teman berbicara yang mengasyikkan selama perjalanan.

Kereta Sri Tanjung sampai di stasiun Ketapang sekitas pukul 21:30. Kami langsung menuju pelabuhan dengan berjalan kaki saja. Tak jauh jarak antara stasiun dan pelabuhan. Cukup keluar dari stasiun lalu belok kanan, berjalan kaki kisaran 100 meter saja. Atau, kalau mau langsung naik bis menuju Denpasar, bisa langsung naik bis yang parkir ada di depan Indomart dekat pintu keluar stasiun.

Setelah membeli tiket seharga 6000 per orang, kami langsung naik ke atas kapal “Pottre Koneng” milik PT. Darma Lautan Utama. Kapalnya cukup bersih. Selama penyebrangan kami dihibur dengan musik dangdut “Iwak Peyeeek…. Iwak Peyeeek”. Penumpangnya juga sepi, membuat kami bebas pindah-pindah tempat duduk. Penyebrangan Ketapang – Gilimanuk menghabiskan waktu 1 – 1,5 jam.

Terdengar bunyi mesin yang melemah, rupanya kapal sudah merapat ke pelabuhan Gilimanuk. Sampailah kami di pulau Dewata, yang kata orang adalah surganya dunia.

*Yes, Yes, Yes! Aku Nyampe Bali*

🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s