Negeri di Atas Awan (Sebuah Tulisan Eksperimental yang Belum Selesai)

Ini bukan kayangan. Ini hanya sebuah desa bernama Sembungan. Satu desa terpencil di daerah dataran tinggi Dieng, Wonosobo. Konon, Ia adalah desa tertinggi di pulau Jawa. Bahkan ada yang bilang ini desa tertinggi di Indonesia. Ah, peduli apa. Yang jelas ini desa yang tinggi. Kira-kira ketinggiannya mencapai 2.300 mdpl. Saya tidak pernah mengukurnya sendiri. Tapi begitu yang tertera di papan desa setelah gapura yang menjadi gerbangnya. Siang malam masyarakatnya sibuk ngurus kentang. Menanam, memupuk, menyiram, mengobati. Begitu setiap hari silih berganti. Orang Sembungan pantang diam, karena diam berarti tak punya uang. Kentang dipanen setelah usianya mencapai 3-4 bulan. Kentang dijual ke luar kota hingga Jakarta. Kentang diolah jadi sayur, digoreng jadi kentang goreng, jadi kerupuk kentang. Kentang laku, uang disaku. Buat beli sembako, peralatan rumah tangga, tak lupa menyisihkannya untuk modal menanam lagi. Jika rezeki sedang mujur, bisa buat ganti motor. Jika sedang rugi, berhutang lagi, berhutang lagi.

Untuk menuju negeri di atas awan ini, siapa pun anda, sangat mudah caranya. Dari mana pun anda berasal, jika anda menggunakan kendaraan umum pastikan anda sampai di terminal kota Wonosobo, Jawa Tengah. Dari sana anda bisa naik bus yang langsung menuju sembungan. Tapi  bis yang langsung menuju desa tersebut agak jarang. Hanya ada dua kali sehari, setahu saya. Anda tak usah mengandalkan bus tersebut. Ada baiknya anda naik bus apapun yang penting bisa sampai itu jurusan Dieng. Turunlah di pertigaan Dieng. Paling-paling ongkosnya hanya sekitar Rp 8.000. Setelah itu lanjutkan perjalanan anda dengan menggunakan jasa ojek yang sedang menunggu pelanggan di sekitar pertigaan tersebut. Anda bisa langsung menuju desa Sembungan, atau mampir terlebih dahulu di tempat wisata Telaga warna. Hmmm… “tempat yang bagus!” demikian komentar teman saya.

Bila sudah sampai di Sembungan, anda tak perlu khawatir untuk masalah tempat tinggal. Sebab, pak lurah di sana memiliki sebuah penginapan untuk para wisatawan yang datang. Tarifnya gak mahal-mahal amat, paling-paling hanya kisaran 50-100 ribu per malamnya. Dan… bersiaplah menikmati sensai dingin Negeri di Atas Awan!

Uhh… Setelah anda berada di Sembungan, jangan lupa untuk menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise) setiap pagi di bukit Sikunir. Hanya butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk mendakinya. Bila anda mau sekalian camping dan tak membawa alat-alat camping semacam tenda, kompor, dan sejenisnya. Tak perlu khawatir! Di desa tersebut ada persewaannya. Asal anda bawa uang, semuanya bisa beres lah…. Jangan lupa pula untuk mampir di telaga cebong yang kaya mitos. Mmmm, untuk masalah mitosnya anda bisa minta pada penduduk sekitar untuk bercerita pada anda. Pasti anda tercengang-cengang. Dijamin!

Sekian dulu. Nanti saya lanjutkan saya punya cerita.

 

 

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s