puisi-puisi

Haiku: Waiting

Siang hujan

Aku terlentang

Tak ada yang datang

***

Hujan reda

Aku tak kerja

Diam begitu saja

***

Senja tiba

Aku tak ada

Tak juga ia

***

Malam kelam

Aku tenggelam

Pada mimpi yang suram

 ***

Pagi berdiri

Aku tak iri

Ia tak juga kemari

Iklan

Sajak sebatang Lisong-WS Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………..
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
…………………..
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

(Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaya).

Ode Buat KHR. As’ad Syamsul Arifin

KHR. As'ad Syamsul Arifin

Oleh : D. Zawawi Imron ‘Si Celurit Emas’

Pada tahun 1897 menjelang abad 20/ 200 meter dari Masjidil Haram
Di kota Mekkah yang penuh berkah/ di tingkah pasir yang berdzikir
Dalam semerbak doa dan syukur/ dibawah curahan rahmat dan hidayat
Lahirlah seorang bayi
Lahirlah guru kami tercinta / KHR. As’ad Syamsul Arifin
Yang nantinya akan menjadi /ahli waris Rasulullah
Begitu lahir bayi itu di bawa ayahandanya/KHR. Syamsul Arifin ke baitullah
Agar kalbunya selalu harum dengan aroma ka’bah/ lalu KHR.Syamsul Arifin
Membisikkan adzan di telinga kanannya/ dan lafadz iqomah di telinga kirinya
Langit biru lazuardi melangkung ke cakrawala / tak ada awan menutupinya
Telah lahir seorang bayi/ telah lahir calon pemimpin
Yang nantinya akan pulang ke negeri nenek moyangnya/ yang bernama Indonesia
Bayi itulah / selain minum air susu ibu tercipta/ tiap hari minum air zam-zam
Yang ditimba dari sumber yang memancar / dari sentuhan tumit nabi ismail
Selepas balita belajar ngaji di dekat ka’bah/ berguru kepada orang-orang yang berhati mulia
Maka jadilah beliau remaja / yang bebantal sejadah
Berselimut iman / berpayung rahmat allah
Kemudian beliau pulang ke Indonesia/ bukan untuk menjauh dari baitullah
Tetapi akan membawa cahaya ka’bah / dan aroma hajar aswad
Ke tanah kelahiran ayah bundanya tercinta
Meskipun kiai as’ad / mendapat cucuran ilmu di baitullah/ tiba di Indonesia
Jiwanya tetap dahaga terhadap ilmu / kalbunya senanatiasa haus akan ilmunya rasulullah
Hal itu menjadi pertanda /bahwa ilmu rasulullah
Tidak hanya semarak di mekkah saja / ilmu rasulullah telah tersebar kemana- mana
Kiai As’ad pun lalu nyantri / mengasah jiwa mulai dari
banyuanyar, sidogiri, buduran /serta berguru kepada syeikhona kholil bangkalan
dan kepada Hadratussyaikh Hasyim Asyari di tebuireng
meskipun telah banyak ilmu yang mengisi pada jiwanya/ meskipun telah banyak kitab
yang telah ditelaah dan dipahaminya/ serta banyak orang yang menimba ilmu padanya
kiai as’ad tetap merasa kecil di hadapan allah/ karena itu beliu senang bersujud
karena itu beliau senang mengajak / orang bersujud kepada allah
mengajak, berdakwah , menyampaiakan /sekalimah demi sekalimah
butir-butir mutiara hikmah / yang diwariskan Rasulullah
ditaburkan dari desa ke desa/ dari jiwa ke jiwa
agar ummat mengenal allah
maka tibalah saatnya beliau membantu ayahahndanya / menegakkan tongkat sejarah
di sebuah wilayah yang sana sini maih hutan belukar / yang berduri onak dan binatang buas
masih bersarang suko belaso/ yang oleh Kiai Syamsul Arifin
diubah menjadi suko raja/ kaki besar, kaki pekasa
kemudian di ubah menjadi sukorajja, sukorejo
disinilah sinar islam itu dinyalakan / bermula cahaya lilin
lalu membesar seperti mercury/ dan berkembang menjadi
cahaya bulan purnama yang menyinari Indonesia
disinilah santri- santri diperkenalkan / kepada yang maha pencipta
kemudian bersujud setia / dengan menyentuhkan dahi ke tanah
sujud, sujud, sujud allahu akbar/ manusia yang berasal dari tanah allahu akbar allahu akbar
sadar bahwa dirinya akan kembali pada tanah, allahu akabar
lalu hutan beluar yang asalnya/ penuh binatang liar itu
berubah menjadi telaga ilmu/ tempat anak negeri mencari damai dengan tuhannya
mencari damai dengan bangsa dan tanah airnya
pada zaman kemerdekaan / kiai as’ad tampil didepan
membela tanah air dan bangsa yang akan di jajah
beliau mengajak ummat menyanyikan/ gita cinta kemerdekaan
untuk maju ke medan perang/ perang kemerdekaan
inilah perang sabilillah/ yang berangkat dari resolusi jihad
yang dikobarkan para ulama’ yang berada/ di bawah komando Hadratussyaikh Hasyim Asyari
kiai As’ad berjuang menjadi perisai kemerdekaan /bukan untuk meraup keuntungan
bukan untuk disebut pahlawan/ bukan untuk mengejar kedudukan
tapi ikhlas semata- mata karena Allah/ agar Indonesia merdeka
Agar seluruh bangsa Indonesia tersenyum
Agar bangsa Indonesia meraih harkat dan kehormatan / tanpa penindasan
Tanpa kekejaman / serta mampu berdiri tegak / dengan taqwa dan kemakmuran
Sejajar dengan bangsa- bangsa yang merdeka / itulah cita-cita cemerlang buat ummat
Untuk meraup masa depan gemilang/ di bawah sinar iman dan islam
Tapi kalau tanah air/ yang seharusnyajadi sejadah
Tidak di jadikan tempat bersujud kepada allah/ tanah air malah dijadikan
Tempat maksiat, dijadikan/ tempat berbuet dosa,
Fitnah, permusuhan
Maka tanah air itu akan stress
Akan menggeliat / sehingga air laut ditumpahkan ke darat
Lalu terjadilah tsunami/ lau terjadilah gempa
Lalu terjadilah semburan Lumpur/ astaghfirullah, astaghfirullah
Kiai as’ad teladan ummat/ perjuangannya seindah bunga mawar
Keikhlasannya semerbak melati
Maka berbahagialah orang-orang yang sempat / berguru padanya
Berteladan akhlaq mulianya/ berkiprah meniru sepak terjang perjuangaannya
Ya allah/ khr.as’ad syamsul arifin/ guru kami tercinta telah pergi
Tapi semangat taqwa dan perjuangaannya/ semoga tetap berkah
Semoga tetap menyala sampai hari kiamat nanti
Ya allah taburkanlah kepada kami barokah / kami ingin menjadi ummat
Yang rindu rasulullah/ dan di rindukan rasulullah

Madura, 3 Juni 2007

Sajak Sederhana

Oleh : Ari Solomon

Aku menulis
Menulis saja
Tanpa majas tanpa kata
Aku menuliskan luka
di deretan gelas kaca
tempat bersulang para raja
lalu mereka tuang anggur darah kedalamnya
darah luka yang kutulis dideretan gelas kaca
menakjubkan
mmereka tak merasa jijik atau iba
mereka meminum luka dan darah
yang membusuk menjadi nanah
mereka mambuk dan tertawa
lampu, kursi, tirai, jendela, kaca
mengelus dada tanpa bisa berbuat apa-apa
lidah-lidah mereka dipotong buat santapan para raja
bayangkanlah
pesta pora mereka
tentu saja meriah
tentu saja suka ria
hanya saja mereka perlu berpura-pura
tak ada luka dan darah di deretan gelas mereka
meski yang mereka telan bangkai dan nanah

Aku menulis
Menulis saja
Sederhana saja
Meski takkan terbaca
Meski tertimbun selaksa luka
Darah merah
Menjadi tinta abadi sejarah dunia