Ari Solomon

Sajak Sederhana

Oleh : Ari Solomon

Aku menulis
Menulis saja
Tanpa majas tanpa kata
Aku menuliskan luka
di deretan gelas kaca
tempat bersulang para raja
lalu mereka tuang anggur darah kedalamnya
darah luka yang kutulis dideretan gelas kaca
menakjubkan
mmereka tak merasa jijik atau iba
mereka meminum luka dan darah
yang membusuk menjadi nanah
mereka mambuk dan tertawa
lampu, kursi, tirai, jendela, kaca
mengelus dada tanpa bisa berbuat apa-apa
lidah-lidah mereka dipotong buat santapan para raja
bayangkanlah
pesta pora mereka
tentu saja meriah
tentu saja suka ria
hanya saja mereka perlu berpura-pura
tak ada luka dan darah di deretan gelas mereka
meski yang mereka telan bangkai dan nanah

Aku menulis
Menulis saja
Sederhana saja
Meski takkan terbaca
Meski tertimbun selaksa luka
Darah merah
Menjadi tinta abadi sejarah dunia

Iklan

Tafakur Cinta

Oleh : Ari Solomon

Cakrawala basah
Sepasang kelelawar menciat resah
Daun jambu melayang membentur jendela
Suasana pun pecah
Dingin menyusupkan gigitan manja
Kita cuma berdua
Aku mencoba mengulang mengeja nama
Ketika bibirku masih dalam kata terbata
Kau masuki tubuhku dengan segala asmara
ya,,,
Asmara yang telah begitu purba
Asmara yang menuntun malaikat sujud di kaki sang Bapa
Asmara yang menggigilkan hati sang rasul utama
Ya kekasih
Yang pertama dan yang baka
Yang setia tanpa harus pura-pura
Yang menunggu di pintu rumahNya dengan keramahan semata
Yang tak memandang hina hatta yang nista
Biarlah Kau kekal di situ
Di sudut usia yang semakin tak bermakna
Tanpa nada cintaMu

Sesederhana Kembang Melati

Oleh : Ari Solomon

lembut seri menyeri
indah dipandang sejukkan hati
begitulah ibarat si kembang melati
anak perawan ayu nan suci

santun pekerti luhur berbudi
berbekal sholat rajin mengaji
sejuk nian wajahnya seri
sekali pandang jatuhlah hati

alahai adek alahai tiba
masa disunting harumnya bunga
kumbang tempiar kerna kecawa
tak cukup syarat bakal rukunnya

rukun iman mahar utama
rukun islam sirih junjungnya
bukan harta adek bercita
bukan rupa adek bercinta

sungguh mulia hidup adinda
pualam permata dasar samudra
bila adek sudah berasa
Tuhan jua pembawa cahya