Guntur Cakra Membelah Bumi

Aku dan Tuhanku

Tuhan
maafkanlah aku
jikalau aku lalai akan segala perintahmu
bahkan aku asik bermain-main dengan laranganmu

Tuhan
maafkanlah aku
jika kitab sucimu hanya tergeletak diatas lemari
sedang aku sibuk dengan diktat-diktat barat yang kuanggap suci

Tuhan
maafkanlah aku
jika aku tak kenal dengan nama-nama indahmu
sedang aku asik menghafal nama-nama yang menjadi bahan gosip

Tuhan
maafkanlah aku
jika doa salatpun aku tak hafal
sedang aku asik menghafal rumus-rumus matematika,kimia,fisika dan semacamnya

Tuhan
maafkanlah aku
jika zakat dan sadakah tak pernah aku lakukan
sedang aku asik menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tak berguna

Tuhan
aku yakin
kau “ALIMAN”

Guntur Cakra Membelah Bumi, Kediri, <dalam malam aku merenung>

Apa Kabarmu Indonesia

apa kabarmu Indonesia…
masihkah kau secantik yang dilukiskan para seniman dalam mahakaryanya
jelita, anggun, serta segala pesona
apa kabarmu Indonesia…
masihkah kau tangkas, pemberani, serta bijak dalam menghadapi setiap permasalahan seperi yang diceritakan seorang temanku dalam novelnya
yang menempatkanmu sebagai tokoh protagonis
yang selalu menyanjungmu dalam tiap-tiap kalimatnya
apa kabarmu Indonesia…
apa benar kau seperti yang dikumandangkan para penyair yang selalu menggemborkanmu sebagai “negeri gemah ripah loh jinawe, toto tentrem, kertoraharjo”
atau …
kau seperti yang kusaksikan dalam setiap info “seputar Indonesia”????
apa kabarmu Indonesia….

Guntur Cakra Membelah Bumi, Pare-Kediri, 17 Agustus 2009

Andai AKU Bisa

Oleh : Guntur Cakra Membelah Bumi

Andai aku bisa selami samudra hatimu
ingin kutancapkan tongkat emas 24 karat yang yang aku sempuh dengan intan berlian

Tapi baru di batas pantai saja aku diterjang ombak yang mengombang-ambingkan tubuh kerempengku
baru diperbatasan patai saja aku mati langkah

Aku ingin tahu seberapa dalam samudra hati itu
Aku bertanya padamu di satu hari

Aku tuliskan kamu sajak yang sungguh indah menurutku
Tapi kau bilang ‘ah biasa aja…’

lalu aku bertanya sjak seperti apa yang kau suka
Kau bilang bahwa kau tak suka sajak ataupun puisi

Aku bertanya tentan apa yang kau suka
kau bilang ‘entahlah…’

Sungguh dalam samudra hatimu
lalu dengan apa aku bisa mencapainya
kau jawab ‘bertanyalah pada nuranimu…’

Aku coba bertanya pada nurani
tapi nuraniku hanya diam sejuta bahasa
spertinya ia tak tahu persis tentang apa yang kualami

Kemudian beberapa hari kemudian kau menanyaku ‘apakah kau sudah bertaya pada nuranimu…?’
Aku jawab belum
lalu kau beri aku senyum kopi tanpa gula
dan berkata ‘kau selami hatimu sendiri kau tak mampu, lalu bagaimana kau mau menyelami hatiku…?’

Dan aku hanya tertegun
‘Duh, andai ku bisa…’