Tulisan Tentang Kopi (Sebuah Tulisan Experimental)

Aku suka minum kopi. Ayahku juga suka. Kakakku sering minum kopi tanpa gula. Atau, kopi dicampur sedikit gula saja. Rasanya memang pait. Tapi katanya disitu kenikmatannya. Salah seorang temanku tidak suka minum kopi. Dia merasa aneh pada yang minum kopi, apalagi tanpa gula. “Pait kok diminum” katanya. Perkataan itu terus diulang-ulang bila aku mencoba menawarkan kopi padanya. Temanku yang tidak suka kopi itu perempuan. Tapi tidak semua perempuan tidak suka kopi. Ibuku suka minum kopi. Kopi yang dicampur susu. Atau kadang dibalik, susu dicampur kopi. Teman perempuanku yang lain juga suka minum kopi. Dia suka kopi tanpa gula. Orangnya manis, tapi kopinya pahit. Sambil minum kopi biasanya dia merokok. Rokoknya merek terkenal, ada mentholnya. Aku tidak suka rokok yang ada mentholnya. Tapi, kopi yang ada mentholnya enak juga. Jadi sensasi jika sesekali.

Konon, asal kopi dari Arab Saudi. Benar salah aku tak peduli asalkan aku masih bisa minum kopi. Kata orang kopi yang paling enak itu kopi luwak. Menurutku tidak. Enak atau tidaknya kopi tergantung bagaimana cara meraciknya. Aku pernah membuat kopi luwak, dan rasanya biasa saja. Sebab meraciknya kurang benar. Kopi luwak memang aromanya lebih mantap. Itu menurutku, entah menurutmu. Tapi, apa kamu pernah mencoba kopi luwak? Kalau belum silakan dicoba dulu. Harganya memang lebih mahal dari kopi biasa. Kalau di cafe-cafe harga kopi luwak bisa mencapai ratusan ribu per cangkirnya. kalau mau yang lebih murah, cobalah cari info tentang orang yang mengolah kopi luwak.

Kopi mengandung kafein. Konon, kafein bisa menahan kantuk. Berarti kopi bisa menahan kantuk. Tapi aku tetap tidur meski sudah minum kopi kalau sudah ngantuk. Temanku juga bercerita begitu padaku. Aku mendengarkannya. terus aku tuliskan di sini. Sudah. Itu saja.

Negeri di Atas Awan (Sebuah Tulisan Eksperimental yang Belum Selesai)

Ini bukan kayangan. Ini hanya sebuah desa bernama Sembungan. Satu desa terpencil di daerah dataran tinggi Dieng, Wonosobo. Konon, Ia adalah desa tertinggi di pulau Jawa. Bahkan ada yang bilang ini desa tertinggi di Indonesia. Ah, peduli apa. Yang jelas ini desa yang tinggi. Kira-kira ketinggiannya mencapai 2.300 mdpl. Saya tidak pernah mengukurnya sendiri. Tapi begitu yang tertera di papan desa setelah gapura yang menjadi gerbangnya. Siang malam masyarakatnya sibuk ngurus kentang. Menanam, memupuk, menyiram, mengobati. Begitu setiap hari silih berganti. Orang Sembungan pantang diam, karena diam berarti tak punya uang. Kentang dipanen setelah usianya mencapai 3-4 bulan. Kentang dijual ke luar kota hingga Jakarta. Kentang diolah jadi sayur, digoreng jadi kentang goreng, jadi kerupuk kentang. Kentang laku, uang disaku. Buat beli sembako, peralatan rumah tangga, tak lupa menyisihkannya untuk modal menanam lagi. Jika rezeki sedang mujur, bisa buat ganti motor. Jika sedang rugi, berhutang lagi, berhutang lagi.

Untuk menuju negeri di atas awan ini, siapa pun anda, sangat mudah caranya. Dari mana pun anda berasal, jika anda menggunakan kendaraan umum pastikan anda sampai di terminal kota Wonosobo, Jawa Tengah. Dari sana anda bisa naik bus yang langsung menuju sembungan. Tapi  bis yang langsung menuju desa tersebut agak jarang. Hanya ada dua kali sehari, setahu saya. Anda tak usah mengandalkan bus tersebut. Ada baiknya anda naik bus apapun yang penting bisa sampai itu jurusan Dieng. Turunlah di pertigaan Dieng. Paling-paling ongkosnya hanya sekitar Rp 8.000. Setelah itu lanjutkan perjalanan anda dengan menggunakan jasa ojek yang sedang menunggu pelanggan di sekitar pertigaan tersebut. Anda bisa langsung menuju desa Sembungan, atau mampir terlebih dahulu di tempat wisata Telaga warna. Hmmm… “tempat yang bagus!” demikian komentar teman saya.

Bila sudah sampai di Sembungan, anda tak perlu khawatir untuk masalah tempat tinggal. Sebab, pak lurah di sana memiliki sebuah penginapan untuk para wisatawan yang datang. Tarifnya gak mahal-mahal amat, paling-paling hanya kisaran 50-100 ribu per malamnya. Dan… bersiaplah menikmati sensai dingin Negeri di Atas Awan!

Uhh… Setelah anda berada di Sembungan, jangan lupa untuk menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise) setiap pagi di bukit Sikunir. Hanya butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk mendakinya. Bila anda mau sekalian camping dan tak membawa alat-alat camping semacam tenda, kompor, dan sejenisnya. Tak perlu khawatir! Di desa tersebut ada persewaannya. Asal anda bawa uang, semuanya bisa beres lah…. Jangan lupa pula untuk mampir di telaga cebong yang kaya mitos. Mmmm, untuk masalah mitosnya anda bisa minta pada penduduk sekitar untuk bercerita pada anda. Pasti anda tercengang-cengang. Dijamin!

Sekian dulu. Nanti saya lanjutkan saya punya cerita.

 

 

Nyepi ke Bali #1

Pada awalnya memang dak ada rencana pergi ke mana-mana, apalagi pergi ke Bali. Cuma, pada hari senen, pas waktu itu lagi ada kuliah Metode Penelitian Survey di ruang Margono lantai 3 Fakultas Ilmu Budaya, temanku Fikri tiba-tiba ngajak pergi ke Bali. “Transportasinya dibayarin Tata” katanya. “Serius” tanyaku meyakinkan. Dia mengiyakan. Aku yang memang tak banyak aktivitas di kampus langsung sepakat, kapan pun berangkatnya. Agak gila memang, hari ini merancanakan, besok mesti berangkat, karena menyesuaikan dengan datangnya hari raya Nyepi yang cuma tinggal tiga hari lagi.

Karena masih ada tugas kuliah yang mesti dikumpulkan hari Rabu, malam harinya aku langsung ngebut bikin tugas. Tugas itu bikin aku tak tidur semalam suntuk, lagipula besok kereta yang berangkat ke Banyuwangi kabarnya berangkat pagi sekali, sekitar jam 7. Bila aku tidur, tentu saja bakal bangun kesiangan dan ketinggalan kereta.

***

Meski kata banyak orang Bali itu indah, aku tak tak terlalu tertarik untuk mengunjunginya. Alasan klasik yang sering saya lontarkan: wisata ke Bali sudah terlalu umum, sudah terlalu banyak orang yang berwisata ke Bali. Namun, kali ini berbeda, ketertarikanku pergi ke Bali bukan karena wisata alamnya, terlebih karena aku pengen merasakan suasana hari raya Nyepi.

Selasa tanggal 20 Maret 2012, tepatnya pukul 07:30, berangkatlah kami dengan menumpang kereta Sri Tanjung Jogja – Banyuwangi. Ongkosnya bisa dibilang sangat murah, hanya Rp 35.000 per orang.

Perjalanan Jogja-Banyuwangi memang cukup lama dan melelahkan, apalagi dengan menumpang kereta ekonomi. Tapi, untung saja penumpang yang duduk di depan kami orangnya sangat asik, kocak, dan baik. Beliau sepasang suami-istri yang usianya sudah cukup tua, 60 tahunan, tapi hubungan mereka masih layaknya orang yang masih pacaran. Bu Desi dan Pak Robert nama sepasang suami-istri tersebut. Mereka hendak pergi ke Lombok untuk menengok cucu. Kata bu Desi, anak-anaknya sudah pada berkeluarga dan tinggalnya pada jauh-jauh. Ada yang di Bali, Lombok, Palembang, juga di Jambi. Semuanya sudah punya pekerjaan yang layak. Sehingga, beliau dan suaminya sudah tak punya tanggungan lagi. Lagipula, mereka sudah pensiun dari pekerjaan. Maka, untuk menghabiskan masa tuanya mereka gunakan untuk jalan-jalan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menengok cucu. Itu terlihat dari bagaimana mereka mengenal betul penjual-penjual yang berseliweran dan para petugas berseragam di kereta. Bu Desi adalah orang yang sangat terbuka. Beliau bercerita semua kisah hidupnya kepada kami, kisah waktu kecil, waktu pacaran, tentang anak-anaknya, dan lain-lain, sehingga kami punya teman berbicara yang mengasyikkan selama perjalanan.

Kereta Sri Tanjung sampai di stasiun Ketapang sekitas pukul 21:30. Kami langsung menuju pelabuhan dengan berjalan kaki saja. Tak jauh jarak antara stasiun dan pelabuhan. Cukup keluar dari stasiun lalu belok kanan, berjalan kaki kisaran 100 meter saja. Atau, kalau mau langsung naik bis menuju Denpasar, bisa langsung naik bis yang parkir ada di depan Indomart dekat pintu keluar stasiun.

Setelah membeli tiket seharga 6000 per orang, kami langsung naik ke atas kapal “Pottre Koneng” milik PT. Darma Lautan Utama. Kapalnya cukup bersih. Selama penyebrangan kami dihibur dengan musik dangdut “Iwak Peyeeek…. Iwak Peyeeek”. Penumpangnya juga sepi, membuat kami bebas pindah-pindah tempat duduk. Penyebrangan Ketapang – Gilimanuk menghabiskan waktu 1 – 1,5 jam.

Terdengar bunyi mesin yang melemah, rupanya kapal sudah merapat ke pelabuhan Gilimanuk. Sampailah kami di pulau Dewata, yang kata orang adalah surganya dunia.

*Yes, Yes, Yes! Aku Nyampe Bali*

🙂