Kasih Tak Sampai

Kisah Cinta Pyramus dan Thisbe

Buah Prambus yang dahulu berwarna merah, menjadi putih seputih salju. Perubahan warna itu terjadi dengan cara aneh dan menyedihkan. Kematian sepasang anak muda yang saling mencintai menjadi penyebabnya.

Pyramus adalah seorang pria tampan, begitu juga Thisbe, gadis cantik dari Babylon, kota Ratu Semiramis. Rumah mereka berdekatan dan karena sering hidup di lingkungan yang sama, mereka saling mencintai. Mereka ingin menikah, namun kedua orang tua mereka tidak merestuinya. Bagaimana pun juga, cinta tidak bisa dilarang. Semakin nyala api dihalangi, semakin panas ia membakar hati. Cinta selalu menemukan jalannya. Rasanya mustahil jika memisahkan kedua anak muda itu yang saling mencintai itu.

Di antara tembok rumah mereka terdapat sebuah celah kecil. Tak ada yang memperhatikan celah itu, akan tetapi tak ada yang tak diperhatikan oleh dua insan yang sedang jatuh cinta itu. Pyramus dan Thisbe memperhatikannya dan lewat celah itu mereka saling membisikkan bahasa cinta. Pyramus di satu sisi dan Thisbe di sisi lainnya. Tembok kebencian yang memisahkan berubah menjadi tembok yang menyatukan mereka, dan mereka berpisah begitu matahari tenggelam berganti malam.

Suatu pagi saat fajar menyingsing, mereka akan berdiri di tembok itu, mengucap kalimat cinta yang membakar hati, kemudian menatapi nasib mereka yang malang, namun mereka hanya berbisik. Akhirnya datang sebuah hari di mana mereka tidak bisa menahan lebih lama lagi. Mereka memutuskan bahwa pada malam itu mereka harus bertemu di sebuah tempat yang aman, dan mereka setujubertemu di makam Ninus, di bawah pohon Mulberry yang tinggi. Mereka sangat bahagia dengan rencana itu dan bagi mereka sepertinya siang itu terasa sangat lama.

Akhirnya matahari tenggelam berganti malam. Thisbe keluar di bawah kegelapan dan pergi ke makam tersebut. Pyramus belum datang, Thisbe tetap menunggunya, dan cintanya membuatnya tegar. Namun, tiba-tiba Thisbe melihat seekor singa betina. Singa itu baru saja membunuh mangsanya, terlihat dari kukunya yang berlumuran darah. Singa itu masih jauh dari Thisbe, sehingga ia masih bisa melarikan diri. Namun, ketika ia melarikan diri selandangnya terjatuh. Singa itu menghampiri selendang Thisbe dalam perjalanan pulang ke sarangnya, dan sebelum ia menghilang ke dalam hutan ia merobek-robek selendang Thisbe. Tak lama setelah singa itu masuk ke dalam hutan, Pyramus datang dan ia melihat selendang Thisbe yang terkoyak-koyak serta berlumuran darah. Dan, di dekat selendang itu, ia melihat jejak singa. Satu kesimpulan yang pasti, Pyramus menganggap kekasihnya telah mati dimangsa singa. “Akulah yang telah membunuhmua” Pyramus meratapi selendang Thisbe yang sudah tak berbentuk itu, lalu menciumnya berkali-kali. Kemudian, dibawanya selendang itu ke pohon Mulberry. “Sekarang” ucap Pyramus pada pohon itu, “Kau juga harus meminum darahku”. Tiba-tiba saja Pyramus mencabut pedangnya lalu menancapkan pada perutnya. Darahnya muncrat hingga mengenai pohon dan menutupi buah-buah prambus yang putih itu dengan darahnya.

Meskipun Thisbe sebenarnya takut pada singa tadi, Ia tak ingin mengecewakan kekasihnya. Ia memutuskan untuk kembali ke pohon Mulberry yang buahnya seputih salju, tempat yang ia rencanakan untuk bertemu dengan kekasihnya, Pyramus. Namun, ia tak menemukan pohon itu. Sebuah pohon memang ada, tapi bukan pohon yang ia lihat sebelumnya. Ia terus pandangi pohon itu, hingga tiba-tiba ia melihat sesuatu  bergerak-gerak di bawah pohon. Ia mundur sejenak, tapi tak lama kemudian ia melihat jelas sesuatu yang bergerak di bawah pohon itu, yang tak lain adalah kekasihnya, Pyramus, yang sedang sekarat dan berlumur darah. Thisbe kaget luar biasa. Ia hampiri Pyramus, lalu memeluknya. Ia cium bibirnya yang sudah mendingin, dan terus memeluknya. “Ini aku kekasihmu, Thisbe” ucap Thisbe tersengguk-sengguk, tak dapat menahan tangisnya. Ketika mendengar nama Thisbe, Pyramus membuka matanya yang mulai berat, tapi hanya sesaat, dan kemudian ia tak dapat lagi membuka kedua kelopak matanya.

Thisbe melihat pedang yang menancap pada perut kekasihnya serta selendangnya yang yang tergeletak di sampingnya. Kini ia mulai paham apa yang telah terjadi. “Tanganmu sendiri yang membunuhmu,” ucap Thisbe tersedu-sedu, “dan, cintamu padaku… Oh, aku juga bisa menjadi pemberani, aku juga dapat mencintai, hanya kematian yang sanggup memisahkan kita”. Ia kemudian mencabut pedang yang masih menancap di perut kekasihnya, lalu menancapkan pedang yang berlumur darah kekasihnya itu ke dalam hatinya.

Buah Prambus merah di pohon Mulberry adalah kenangan abadi, mengenang cinta sejati mereka.

Sumber: Mitologi Yunani

Iklan