refleksi

Suatu Malam Aku Terlelan Sebotol Bir

Hujan di balik jendela membanjiri mata. Sebuah bayangan pada cermin gantung mengintai setiap gerak-gerik mata, tangan, dan kakiku. Sepasang mata pada sebotol bir yang baru saja kubeli di sebuah toko swalayan 24 jam bersitatap dengan mataku.

 “Aku hanya sendiri dalam gua pertapaanku seperti ulat dalam kepompong dan tak pernah menjadi kupu-kupu. Lalu, sambil sepasang matanya terus menatap mataku, botol bir itu membuka moncongnya. Separuh isi menjadi busa. Separuh busa menjadi air. Pelan tapi pasti, sebotol bir itu mendekat, moncongnya menyentuh moncongku. Kami pun berasyik manyuk ke dalam ciuman yang dalam. Air liur kami bertemu menjadi satu ramuan khusus, tak lagi dalam wujud air liur. Ramuan itu masuk ke dalam tubuhku, juga ke dalam tubuhnya, tubuh sebotol bir. Ramuan itu menciptakan energi tarik menarik. Botol bir itu menarik moncongku kuat-kuat. Aku pun demikian, aku tak mau kalah, aku menghisap moncongnya sekuat tenaga. Maka terjadilah tarik menarik yang membuat ciuman kami semakin kuat. Di luar perkiraan, tiba-tiba botol bir itu melebarkan moncongnya, menuntaskan ciuman yang sedang kami lakukan. Kini tak cuma bibirku yang bertemu dengan bibirnya. Separuh bagian kepalaku, termasuk otakku, kini berada di dalam separuh bagian kepalanya, mulutnya. Nafasku makin sesak akibat terhimpit beling kaca botol bir itu. Pelan tapi pasti kepalaku menyentuh isi botol bir yang tinggal separuh.Aku tersendak oleh cairan bir yang sudah becampur dengan air liurku sendiri. Aku susah bernafas dan secara sadar aku telah kehilangan separuh kesadaranku. Setelah separuh ketidak-sadaran itu pulih, aku baru sadar kalau kepompong yang menjadi gua pertapaanku kini semakin mengecil menjadi ruangan sempit yang menghimpit. Aku telah ditelan oleh sebotol bir separuh isi yang kubeli di sebuah toko swalayan 24 jam.”

 Hujan di balik jendela kian membanjiri mataku. Sementara siaran tivi kian mengikis daya imajinasi, separuh otakku pergi mencari-cari.

 Yogyakarta, 24 Januari 2014